Laman

Minggu, 09 Desember 2012

KONSEP PERTANIAN BERKELANJUTAN

Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan kesanggupan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka”.

Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan. Sedang tujuan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan basil pada aras yang optimal; mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem; dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan makhluk hidup lainnya. Sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria, antara lain:

  1. Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya terbarukan.
  2. Menguntungkan secara ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/ pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar buruh dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan fungsi kelestarian sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan.
  3. Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan hasil. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
  4. Manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerja sama antar makhluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerja sama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.
  5. Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani: pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi termasuk juga inovasi sosial dan budaya.
Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan. Sistem produksi yang dikembangkan berasaskan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai (Pertanian Berkelanjutan/Lestari, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah). Konsep ini dapat dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional, antara lain: meningkatkan produktivitas, melaksanakan konservasi energi dan sumberdaya alam, mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara, meningkatkan keuntungan usahatani, memantapkan dan ketenlanjutan konservasi serta sistem produksi pertanian.

Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumberdaya terbarukan berarti sumberdaya tersebut harus dapat difungsikan secara berkelanjutan (continous). Sekarang kita sudah mulai sadar tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan, dan kemampuan budi daya manusia untuk merusak lingkungan tersebut. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan sumberdaya adalah terbatas.

Pada dasarnya konservasi lahan diarahkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hidrologis, menjaga kelestarian sumber air, meningkatkan sumber daya alam serta memperbaiki kualitas lingkungan hidup yang pada gilirannya meningkatkan produksi dan  pendapatan petani melalui usaha tani yang berkelanjutan.

Pola usaha tani konservasi merupakan suatu bentuk pengusahaan lahan yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik/sipil teknik, vegetatif maupun kimiawi .

Metode mekanik/sipil teknik, suatu bentuk metode konservasi tanah dengan menggunakan sarana fisik (tanah, batu dan lain-lain ) sebagai sarana bangunan konservasi tanah. Metode ini berfungsi untuk: a). memperlambat aliran permukaan, b). menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan  yang tidak merusak. 

Beberapa cara yang diajurkan: (1) pengolahan tanah minimum, (2) pengolahan tanah menurut kontur, (3) pembuatan guludan dan teras, (4) pembuatan terjunan air, (5) pembuatan rorak / saluran buntu.

Metode Vegetatif: suatu metode konservasi tanah dengan menggunakan tanaman atau tumbuhan dan seresah untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan daya rusak aliran permukaan erosi. Metode ini berfungsi :

  1. Melindungi tanah terhadap daya rusak butir-butir hujan yang jatuh,         
  2. Melindungi tanah terhadap daya perusahan aliran air,
  3. Memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahan air yang mempengaruhi besarnya aliran permukaan,
  4. Memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Beberapa cara yang digunakan: sistem pertanaman lorong, strip rumput, tanaman penutup tanah, teras gulud, teras bangku, rorak, embung, mulsa, dan dam parit.

Sedangkan metode kimia dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah melalui pemberian bahan kimia tanah (soil Conditioner).

PERTANIAN ORGANIK

Pertanian ramah lingkungan salah satunya adalah dengan menerapkan pertanian organik. Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, Pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik. Bila kita sepenuhnya mengacu kepada terminologi (pertanian organik natural) ini tentunya sangatlah sulit bagi petani untuk menerapkannya, oleh karena itu pilihan yang dilakukan adalah melakukan pertanian organik regenaratif, yaitu pertanian dengan perinsip pertanian disertai dengan pengembalian ke alam masukan-masukan yang berasal dari bahan organik.

Pengelolaan pertanian yang berwawasan lingkungan dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan menguntungkan, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Pemilihan komoditas dan areal usaha yang cocok merupakan kunci dalam pelaksanaan pembangunan pertanian berkelanjutan, komoditas harus yang menguntungkan secara ekonomis, masyarakat sudah terbiasa membudidayakannya, dan dibudidayakan pada lahan yang tidak bermasalah dari segi teknis, ekologis dan menguntungkan secara ekonomis. 

Beberapa perinsip dasar yang perlu diperhatikan adalah: (1) pemanfaatan sumberdaya alam untuk pengembangan agribisnis hortikultura (terutama lahan dan air) secara lestari sesuai dengan kemampuan dan daya dukung alam, (2) proses produksi atau kegiatan usahatani itu sendiri dilakukan secara akrab lingkungan, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dan eksternalitas pada masyarakat, (3) penanganan dan pengolahan hasil, distribusi dan pemasaran, serta pemanfaatan produk tidak menimbulkan masalah pada lingkungan (limbah dan sampah), (4) produk yang dihasilkan harus menguntungkan secara bisnis, memenuhi preferensi konsumen dan aman konsumsi. Keadaan dan perkembangan permintaan dan pasar merupakan acuan dalam agribisnis hortikultura ini.

Pertanian Organik Modern
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

  1. Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.
  2. Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan. Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional. Komoditas pertanian organik yang akan dikembangkan dan memiliki potensi pasar yang baik, yaitu: hortikultura sayuran (brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis), perkebunan (kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi), rempah dan obat (Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya), dan peternakan (susu, telur dan daging). 

Kalender Tanam Mesti Terap


Perubahan iklim merupakan kejadian alam yang dapat terjadi di tingkal global, regional,maupun lokal, yang umumnya berdampak terhadap perubahan pola tanam danpenurunan produksi. “pranatamangsa” dan “Kertamasa” yang dalam sejarah danbudaya bercocok tanam dijadikan sebagai pemandu penerapan pola tanam tidakdapat dipedomani sepenuhnya karena pergeseran awal musim akibat perubahan iklim.
Setiap tahun petani dihadapkan kepada perubahan iklim yang ekstrim, baik kering (El-Nino)maupun basah (La-Nina). Kekeringan pada musim hujan menyebabkan tanaman kekeringan sebelum sempat tumbuh. Pada beberapa kasus, akibat fenomena tersebut terjadi perkembangan hama dan penyakit yang menyebabkan tanaman tidak jarang mengalami gagal panen.
Perubahan pola curah hujan tersebut harus menjadi perhatian dalam mengatur kalender dan pola tanam untuk menjaga kesinambungan produksi pertanian menuju kemandirian pangan nasional.Oleh karena itu perlu dibuat peta kalender tanam.
Apakah Peta Kalender Tanam (katam) itu?
                Peta Kalender Tanam (Katam) adalah peta yang menggambarkan potensi pola waktu tanam untuk tanaman pangan, terutama padi, berdasarkan potensi dan dinamika sumberdaya iklim dan air. Peta ini secara khusus disusun untuk keperluan program ketahanan pangan. Peta Kalender Tanam diharapkan juga menjadi salah satu informasi yang operasional dalam menghadapi anomaly dan perubahan iklim.
                Untuk mengantisipasi perubahan iklim yang tidak menetu dan tidak mudah diprediksi, maka peta katam tidak hanya disusun berdasarkan kondisi periode tanam yang dilakukan oleh petani saat ini, tetapi juga disusun berdasarkan tiga kejadian iklim yaitu tahun basah (TB), tahun normal (TN), dan tahun kering (TK). Dengan demikian kalender dan pola tanam yang akan diterapkan dapat disesuaikan denganmasing-masing kondisi iklim tersebut.
Manfaat dan Sasaran
(1)   Menentukan waktu tanam setiap musim (MH,MKI, danMKII) berdasarkan kondisi iklim (La-Nina,normal, atau El-Nino).
(2)   Menentukan pola tanam secara spasial dan tabularpada skala kecamatan.
(3)   Menetukan rotasi tanaman pada setiap kecamatanberdasarkan potensi sumberdaya iklim dan air.
(4)   Mendukung perencanaan tanam, khususnya tanamanpangan.
(5)   Mengurangi kerugian petani sebagai akibat burukpergeseran musim.

Peta Katam dibuat sederhana agar mudahdipahami oleh para penyuluh, petugas dinas pertanian,kelompok tani dan petanidalam mengatur kalender dan pola tanam sesuai dengan kondisi iklim.
Keunggulan
(1)   Dinamis, karena disusun berdasarkan beberapakondisi iklim.
(2)   Operasional pada skala kecamatan.
(3)   Spesifik lokasi, karena mempertimbangkan kondisisumberdaya iklim dan air setempat
(4)   Mudah diperbaharui (updatable)
(5)   Mudah dipahami oleh Pengguna, karena disusunsecara spasial dan tabular dengan uraian yang jelas.
Target
                PetaKatam disusun dalam bentuk Atlas skala 1:250.000. Dalam penggunaannya, petakalender tanam perlu dilengkapi dengan prediksi iklim, agar diketahui kejadianiklim yang akan datang, sehingga perencanaan pertanian dapat disesuaikan dengankondisi sumberdaya iklim dan air. Seandainya diperlukan informasi lebih lanjutboleh menghubungi BAlit Agroklimat dan Hidrologi, jl. Tentara Pelajar IA BogorTelp/Fax 0251-312760.

Senin, 19 November 2012

pestisida nabati

Ramuan Pestisida Nabati

Hama sasaran:
Semut, Laba-laba, Lalat Buah, Trips, Tungau (Mite), Kutu Kebul (Bemisia Tabaci), Penggorok daun jenis ulat, belalang, jangkrik dan lain-lain.

Bahan- bahan:
Bawang putih 1 ons
kunyit 1 ons
Lengkuas 3 ons
Sereh 3 batang
Merica secukupnya

Cara membuat:
Semua bahan ditumbuk sampai hancur, tambahkan air 1 liter dan didihkan sebentar. Setelah selesai pindahkan ke ember atau wadah. Tambahkan sabun cuci yang biasa untuk mencuci piring secukupnya, aduk sampai rata, kemudian dinginkan. sebelum digunakan saring dengan kain halus, agar tidak menyumbat semprotan.

Aplikasi:
Tambahkan air, setiap 100 cc - 200 cc tambahkan air 3 s/d 4 liter air. Semprotkan pada tanaman yang terkena hama.

Penyimpanan:
Simpan dalam jerigen tertutup dan terhindar dari cahaya matahari langsung.

Semoga bermanfaat...

Harus diprotes

Upaya Pemerintah dalam melakukan swasembada pangan terlihat tidak serius dan tidak konsisten. Sebab lewat kementerian perdagangan, pemerintah akan mengimpor beras dari Kamboja sebanyak 100 ribu ton per tahun. Hal ini sudah tertuang dalam Nota Kesepahaman impor beras 100.000 ton antara Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan dengan Menteri Perdagangan Kamboja Cham 
Prasidh pada pertemuan para Menteri Ekonomi se-ASEAN ke-44. Menurutnya, impor beras 100 ribu ton per tahun ini sebagai langkah untuk memenuhi konsumsi beras dalam negeri, serta sebagai antisipasi jika terjadi cuaca buruk yang bisa berdampak pada pertanian Indonesia (kompas.com, 31/8/2012).

Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, pemerintah pernah mengatakan bahwa tidak akan ada impor beras dalam waktu dekat, namun kenyataanya akan kembali mengimpor beras. Tentunya, dengan impor beras ini akan menyebabkan harga beras lokal turun dan para petani dalam negeri yang dirugikan. Motivasi petani menurun dan akhirnya produksi beras menurun.

Swasembada pangan dengan target surplus 10 juta ton beras pada 2014 yang sering di gembor-gemborkan pemerintah selama ini dirasa hanya sebatas abang-abang lambe (istilah jawa: hanya bicara saja). Dalam pencapaian target tersebut seharusnya pemerintah bekerja keras untuk mendorong dan memfasilitasi para petani agar produksi beras dalam negeri meningkat, bukan malah melakukan cara praktis, manja, lebay dan sifatnya jangka pendek seperti impor beras ini.

Memang beginilah nasib pertanian kita, masih dianaktirikan. Sisi lain berharap lebih dari sektor pertanian, disisi lain pemerintah tidak pernah serius mau memikirkan kondisi pertanian.

Beberapa hal pokok yang menjadi permasalahan pertanian kita yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM) petani yang sangat rendah, bisa kita lihat petani kita sebagian besar hanya lulusan SD (Sekolah Dasar). Disamping itu pemerintah juga belum menunjukan ittikad baiknya untuk berpihak dan mendukung sepenuhnya untuk kemajuan sistem pertanian kita khususnya dalam sistem tataniaga. Hal ini terlihat dengan bagaimana impor beras masih menjadi pilihan utama yang dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, seolah-olah pemerintah enggan untuk mau berpikir sedikit saja agar dapat meningkatkan produktivitas pertanian kita dengan kualitas yang baik tentunya dengan adanya keberpihakan kepada petani (dalam hal peningkatan kualitas SDM, perbaikan infrastruktur pertanian/irigasi dan penggunaan teknologi), sehingga mampu menciptakan kesejahteraan petani kita.

Jika kondisinya seperti ini terus berlanjut pertanian kita suatu saat akan hancur, petani kita akan pindah profesi entah menjadi kuli bangunan atau yang lainnya karena biaya input pertanian (benih, pupuk, pestisida dan lainnya) yang mahal, hasil produksi tidak meningkat dan harga jual produk yang rendah. Kita selamanya akan bergantung terus pada beras impor dengan harga yang telah di tentukan oleh mereka.

Yang dibutuhkan petani sebenarnya sudah jelas yaitu peningkatan kualitas SDM petani melalui upaya pendampingan, pembinaan, pendidikan dan pelatihan, peningkatan produktivitas (alih teknologi), perlindungan harga produk lokal, pembukaan pangsa pasar yang lebih menguntungkan dan yang paling penting pemerintah harus peka terhadap kondisi pertanian sekarang supaya tidak salah menentukan kebijakan.

Akhirnya, sudah saatnya kita semua bersatu untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang mandiri, tidak bergantung pada produk luar negeri yang suatu saat akan menjajah kita sendiri. Tentunya dengan memperhatikan pertanian kita secara menyeluruh. (iman_LPS)


Pestisida Nabati



RAMUAN PESTISIDA NABATI

1.   Untuk mengendalikan hama secara umum
      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Daun mimba
Lengkuas
Serai
Detergen / sabun colek
Air
8 kg
6 kg
6 kg
20 kg
80 liter

      Cara Pembuatan :
Daun mimba, lengkuas dan semi ditumbuk halus kemudian dicampur dengan detergen / sabun colek. Lalu tambahkan 20 liter air dan aduk sampai merata. Rendam selama 24 jam kemudian saring dengan kain yang halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Semprotkan larutan terebut pada tanaman untuk luasan 1 hektar.

2.   Untuk mengendalikan hama trips pada tanaman cabe
      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Daun sirsak
Detergen / sabun colek
Air
50 – 100 lembar
15 gram
5 liter

      Cara Pembuatan :
Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 liter air
Direndam selama 24 jam, saring dengan kain halus
Setiap liter larutan dapat diencerkan dengan 10-15 liter air
Semprotkan larutan tersebut pada seluruh bagian tanaman yang ada hamanya

3.   Untuk mengendalikan hama belalang dan ulat
      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Daun sirsak
Daun tembakau
Detergen / sabun colek
Air
50 lembar
Satu genggam
20 gram
20 liter

      Cara Pembuatan :
Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus dan tambahkan detergen atau sabun sabun colek, aduk dengan 20 liter air dan endapkan selama 24 jam
Saring dengan kain halus dan diencerkan dengan 50-60 liter air
Aplikasi dengan cara disemprotkan

4.   Untuk mengendalikan hama wereng cokelat, penggerek batang dan mematoda
      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Biji mimba
Alkohol
Air
50 gram
10 cc
1 liter

      Cara Pembuatan :
Biji mimba ditumbuk halus
Aduk dengan 10 cc alkohol
Encerkan dengan 1 liter air
Endapkan selama 24 jam
Dapat disemprotkan pada tanaman / serangga hama

5.   Untuk mengendalikan hama pada tanaman bawang merah
      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Daun mimba
Umbi gadung racun
Detergen/ sabun colek
Air
1 kg
2 buah
Sedikit
20 liter

      Cara Pembuatan :
Daun mimba dan umbi gadung ditumbuk halus, tambah detergen/sabun colek aduk dengan 20 liter air, endapkan 24 jam, saring dan dapat disemprotkan pada tanaman.


      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Limbah daun tembakau
200 kg

      Cara Pembuatan :
Dihancurkan/ditumbuk dihaluskan, cara aplikasi tumbuhan dan tembakau ditaburkan bersama pemupukan untuk 1 hektar. Limbah dan tembakau itu baik untuk mengendalikan penyakit karena jamur, bakteri dan mamatoda.


5.   Untuk mengendalikan tikus
      Bahan-bahan :
     
Nama Bahan
Takaran
Umbi gadung racun
Dedak padi
Tepung ikan
Kemiri
Air
1 kg
10 kg
1 ons
Sedikit
Sedikit

      Cara Pembuatan :
Umbi dikupas dihaluskan, semua bahan dicampurkan tambah air dibuat pelet. Sebarkan pelet di pematang sawah tempat tikus bersarang.


Ditulis oleh : Ir. Koswara Wijaya