Laman

Selasa, 09 Oktober 2012


Jual Ayam Pelung Asli Cianjur Langsung 



Kami merupakan Organisasi Petani yang domisili di Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Hipoci atau kepanjangannya adalah himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia. hipoci merupakan naungan dari petani padi/palawija, peternak Ayam pelung, Peternakan unggas konsumsi, Peternak domba, Peternak Kelinci, dan UKM yang mengolah pertanian.

Ayam yang diberikan merupakan asli dari daerah cianjur dan tentunya nasab/keturunan juara bisa dijamin. kami memberikan terbaik langsung dari sumbernya. anda berminat hubungi Pak jajang di 081217070687


NOTULENSI PERTEMUAN KELOMPOK TANI SUGIH TANI/ KAMPUNG BANGKUONG DESA KEBON PEUTEUY



Oleh Sani Ramdhan Mediansyah

Pada hari Jum’at tanggal 28 September 2012 bertempat di Villa yang diurus Bapak Udeng, malakukan pertemuan kelompok pertanian sebagaimana yang dilakukan pada kelompok lainya di Desa Gekbrong. pertemuan ini juga sama sebagai rutinan setiap bulan sekaligus ajang silaturahmi serta menyuluhkan mengenai perubahan program. Pertemuan dihadiri beberapa tokoh dan beberapa petani yang merupakn perintis kedepan Desa ini. pertemuan ini berjalan lancar bahkan bisa memotivasi para petani untuk mengembangkan usahanya. Karena seperti biasanya pertemuan ini disetting secara partisipatif non-formal dan mengharuskan mereka yang mengungkapkan masalahnya.
            Awal pembicaraan saat pertemuan, membicarakan mengenai masalah mereka terhadap hama dan tanaman mereka baik palawija maupun padi. Seperti yang diungkapan bapak koko yang mengeluh mengenai hama wereng pada ketimunnya dan bapak enden pada sawahdan pada tanaman cabenya. Pendamping mengungkapkan bahan-bahan untuk membuat pestisida nabati serta menerangkan pula dalam penyeprotanya. Selain itu diungkapkan pula pupuk cair yang mesti digunakan serta cara pembuatannya.
            Selanjutnya pendamping memulai acara pertemuan dengan mengungkapkan aset yang telah dimiliki oleh kelompok ini. selanjutnya bermusyawarah mengenai nama kelompok. pada akhirnya penyerahan nama di pasrahkan pada sesepuh yaitu abah karta dan beliau menamai kelompok ini dengan sugih tani.
Selanjutnya pendamping melakukan penyuluhan ulang mengenai panca tani (bukan intesifikasi tani), yakni sebuah prinsif kedepan yang mesti dipegang dalam menjalankan kelembagaan serta kegiatan ekonomi sebagai berikut:
1.  Agama, tentunya berbasis Syariat Islam menjadi pedoman segala aktifitas baik kegiatan kelembagaan maupun kegiatan ekomoni. Bagi mereka yang melanggarnya mendapat sanksi pada dirinya sendiri dan apabila ketahuan maka bersama-sama adan dinasehati, dan jika terus melalaikan maka dikucilkan.
2.  Kebersamaan, tepatnya kegotoroyongan adalah pokok dalam membangun masyarakat baik membangun secara ekonomi maupun secara sosial.
3.  Keterbukaan, adalah semua yang menyangkut paut dengan lembaga hasur disosialisasikan termasuk masalah baik yang menyangkut organisasi ataupun pribadi personal yang ada dalam kelompok di bicarakan secara khusus.
4.   Kepercayaan, adalah seluruh anggota maupun penguruh harus berpikir secara positif terhadap satu dengan yang lainnya, atau dengan kata saling percaya.
5.      Musyawarah mufakat.
 Selanjutnya membicarakan tentang pembukuan yang seperti lainya disuluhkan. 

Prospek Pertanian Organik di Indonesia


Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan "Back to Nature" telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Peluang Pertanian Organik di Indonesia
Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.
Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.
Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.
Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.
Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002
No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)
  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06
Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.
Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.
Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.
Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.
Pertanian Organik Modern
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.
Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.
Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:
a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.
b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.
Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik
No. Kategori Komoditi
  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging.

Jumat, 10 Agustus 2012

Biourine atau Urin Sebagai Pupuk Organik Cair

Bahan-bahan:
  • Air Kencing/Urine Sapi yang ditampung dalam Bak Penampungan
  • Fermentor RB (Rummino Bacillus) dan AZBA (Azotobacter)
  • Pompa
  • Nutrisi tambahan (Tetes Tebu/Molasses 750 ml, dan empon-empon seperti temulawak, Temuireng, Kunyit dll) 5kg.
  • Aerator Bio Urine
Teknik Produksinya :
  • Tampung Urine (Air Kencing) ternak sapi di dalam Bak Penampungan.
  • Masukkan nutrisi tambahan.
  • Masukkan Fermentor (RB dan AZBA) kedalam bak penampungan Urine, dengan takaran Untuk 800 Liter urine di fermentasi dengan RB : 1 Liter dan AZBA : 1 Liter
  • Diaduk dengan Aerator selama 3 sampai dengan 4 Jam
  • Setelah proses pengadukan selesai, Bak ditutup dengan penutup seperti plastik atau triplek, untuk proses Fermentasi, diamkan hingga 7 hari.
  • Aduk selama 15 menit setiap hari sampai hari ke-7.
  • Pada hari ke-8, urine diputar dengan pompa menuju tangga aerasi selama 6 sampai dengan 7 jam dengan tujuan untuk penipisan, untuk mengurangi kandungan gas ammonia yang berbahaya bagi tanaman.
  • Urine bisa diambil dan dikemas dalam wadah untuk selanjutnya digunakan atau disimpan.
Setelah mencari-cari lebih jauh sumber yang lebih kuat mengenai biourin penulis dapatkan di Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.  30, Np. 6 tahun 2008. Makalah ini menjelaskan secara lebih rinci mengenai proses pembuatan dengan hasil pengujian lapangan. Lebih lanjut jika urin dicampur dengan kotoran ternak dapat dibuat biokultur. Pencampuran ini sepertinya ditujukan untuk menyediakan/menggantikan/menambahkan nutrisi seperti pada proses yang disebutkan sebelumnya. Analisis unsur N menunjukkan bahwa proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan unsur N pada biourin dibandingkan dengan urine. Hal ini dijelaskan sebagai akibat dari pengikatan nitrogen dari udara oleh RB dan AZBA. AZBA merupakan mikroba diazotrop yang berfungsi mengikat gas nitrogen dari udara sedangkan BR merupakan campuran dari 2 bakteri, yaitu Rummino Coccus yang memiliki fungsi sebagai dekomposer dan Bacillus thuringiensis yang berfungsi sebagai dekomposer, serta merupakan biofestisida, yang membantu memproteksi tanaman dari gangguan bakteri-bakteri pathogen (sumber).
Lebih lanjut, hasil percobaan lapangan menujukkan peningkatan produktifitas pertanian yang cukup mencengangkan. Too good to be true. Percobaan pada tanaman jagung, bawang merah, kopi dan kakau menujukkan peningkatan produktifitas sekurang-kurangnya 25% jika dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan proses dan hasil tersebut, dapat disimpulkan (sementara) bahwa biourin diperoleh dari fermentasi anaerobik dari urine dengan nutrisi tambahan menggunakan mikroba pengikat nitrogen dan mikroba dekomposer lainnya. Dengan demikian kandungan unsur nitrogen dalam biourin akan lebih tinggi dibandingkan dengan pada urine.
Sekilas, penambahan nitrogen dengan strategi diatas memang tampak sangat memungkinkan, namun demikian jika melihat sifat-sifat dari AZBA, fiksasi nitrogen hanya dimungkinkan jika tidak terdapat sumber N pada media pertumbuhannya. Jika terdapat sumber N lain seperti amonium, nitrat atau nitrit maka proses fiksasi tidak dimungkinkan. AZBA akan menggunakan sumber N tersebut sebagai nutrisi (sumber). Dengan demikian fermentasi lanjut urine, bukannya meningkatkan ketersediaan unsur N terlarut malah sebaliknya, N akan dikonsumsi oleh inokulan yang ada. Selain itu, pertumbuhan inokulan juga akan terhambat oleh keberadaan amonium yang terbentuk dari hasil penguraian urea oleh enzim urease. Jadi penambahan BR juga sebenarnya tidak akan efektif karena pertumbuhannya akan terhambat akibat meningkatnya pH larutan. Lebih lanjut pada pH tinggi amonium yang terbentuk dari dekomposisi urea akan semakin mudah menguap. Akibatnya kandungan N akan semakin berkurang tidak hanya melalui penguapan amonium tetapi juga melalui pengambilan sumber N oleh inokulum.
Pemakaian biourine/urin di negara-negara maju (Telaah Literatur)
Jika menelusuri literatur di jurnal ilmiah, biourine yang diperoleh menurut proses diatas justru tidak ditemukan. Di sebagian besar negara-negara Eropa, terutama di skandinavia, urine manusia justru digunakan secara langsung (tanpa fermentasi) setelah dilarutkan dengan air sebagai pupuk pertanian. Pemakaian urin ini, diproyeksikan menggantikan kebutuhan pupuk urea sebesar 10-20%.
Idea penggunaan urine sebagai pupuk sudah lazim dan justru populer dalam jurnal-jurnal ilmiah diawal abad ke-19. Aplikasinya justru dilakukan beberapa dekade terakhir ini dengan alasan untuk mengurangi keberadaan N pada limbah cair. Keberadaan N dalam jumlah besar memerlukan teknik pengolahan limbah yang jauh lebih kompleks dan lebih mahal (Nitrifikasi, denitrifikasi). Oleh karena itu, pemisahan urine yang berkontribusi besar terhadap keberadaan N pada limbah cair dipisahkan sejak awal. Biasanya dilakukan dengan memisah saluran urine dan feaces pada toilet.
Urine sangat baik digunakan sebagai pupuk organik cair karena memiliki kandungan hara yang lengkap. meskipun fluktuatif bergantung pada lokasi dan sumbernya (manusia), Kandungan N sekitar 1.5-2% serta P dan Snya 0.15-0.2%. Unsur N nya 75-90% berada sebagai urea asedangkan sisanya dalam bentuk amonium atau kreatinin. Sedangnkan P dan S hampir 90-100% berbentuk inorganik terlarut serta secara langsung dapat dikonsumsi oleh tumbuhan. Adanya aktifitas urease menyebabkan terjadinya dekomposisi secara cepat menjadi air dan amonium. Reaksi ini memicu meningkatnya pH sampai 9 dan meningkatkan penguapan amonium serta menurunkan populasi bakteri.
Dalam pemakaiannya urine disarankan tidak ditebarkan secara langsung tetapi dilarutkan 10-20 kali. Pemakaian urin tidak terlebih dahulu melalui fermentasi menjadi biourin sebagaimana yang populer di Indonesia. Hasil uji coba penanaman menunjukkan bahwa produktifitas lahan biasanya setara dengan pupuk kimia. pemakaian urin sebagai pupuk diformulasikan ekivalen dengan jumlah N yang diberikan di pupuk inorganik. Pemakaian urin memiliki kelebihan dengan meningkatkan resistensi tanaman terhadap hama dan mengurangi populasi hama pengganggu. Hal ini diakibatkan karena Urine juga mengandung nutrisi mikro lainnya yang secara kumulatif memberikan dampak merugikan bagi hama tanaman.
( http://roilbilad.wordpress.com/2011/02/22/biourine-atau-urin-sebagai-pupuk-organik-cair-memilih-alternatif-yang-lebih-baik/)

Kayambang atau Azollae Sumber Urea

Tanaman air yang kecil-kecil banget azolla
[http://www.geo.uu.nl/]
Dulu waktu aku masih kecil, aku & teman-temanku sering main di sawah di belakang rumah. Mungkin jarang aku perhatikan, di sawah banyak sekali tanaman yang mengambang di permukaan air. Ada beberapa jenisnya. Setelah aku kuliah baru aku tahu kalau salah satu tanaman air ini sangat bermanfaat untuk padi, yaitu Azolla.
Azolla adalah tanaman air yang berdaun kecil-kecil dan pada saat-saat tertentu tumbuh sangat banyak. Warna daunnya bisa sangat hijau dan tebal.
azolla
[http://www.habitas.org.uk/]

Azolla bukan tanaman air sembarangan. Azolla memilikiSaya kemampuan yang tidak dimiliki oleh tanaman air lain, yaitu menambat nitrogen (N) dari udara. Udasa yang kita hirup > 75%nya adalah N. Sayangnya N ini tidak bisa langsung diserap oleh tanaman. Azolla – lah yang menambat N udara menjadi N yang bisa diserap oleh tanaman. Kandungan N di dalam Azolla sangat tinggi untuk ukuran bahan organik, bisa mencapai 4 – 5% dari berat keringnya. Bahan organik yang lain umumnya hanya < 2%.
Kemampuan Azolla untuk menyuburkan tanaman sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Orang-orang China dan Vietnam sudah sejak abad 15 dan 17 sudah memanfaatkan Azolla untuk pupuk tanaman. Kini Azolla telah tersebar di penjuru bumi.

Annabaena azollae: Kawan karib Azolla yang menambat N

Azolla tidak sendirian dalam menambat N dari udara. Azolla bersimbiosis dengan gangang mikro yang namanya Annabaena azollae. Gangang ini tumbuh dan berkoloni di ruangan di bawah daun. Mereka inilah yang bekerja keras menambat N dari udara.
Annabaena sendiri juga unik. Dia akan menambar N jika memang benar-benar diperlukan. Dalam kondisi miskin hara N di perairan, Annabaena akan menambat N. Tetapi jika di lingkungan air tersebut ada N, dalam bentuk urea misalnya, maka Annabaena tidak/sedikit sekali menambat N.
anabaena
[www.search.com/reference/Anabaena]
Anabaena yang berperan menambat N. Bagian N yang aktif menambat adalah sel yang besar itu, namanya heterocyt. Jika di air terdapat amonium (dari urea), sel-sel heterocyt ini tidak ada, dan Azolla tidak bisa menambat N.
Jadi kalau mau nenanam Azolla di lingkungan sawah, jangan terlalu banyak, atau bahkan sama sekali jangan nemambahkan pupuk urea. Urea akan menjadi amonium dan amoniumlah yang membuat Annabaena tidak mau menambat N.

Pemanfaatan Azolla

azolla
[http://www.wikipedia.com]
Cara sederhana untuk memanfaankan Azolla adalah dengan menanam langsung ke persawahan. Sawah yang digenangi air ditabur bibit Azolla. Azolla yang tumbuh langsung dimanfaatkan untuk tanaman padi.
Cara lain adalah dengan menanam Azolla secara khusus di kolam. Penanaman Azolla perlu tambahan pupuk fosfat. Azolla yang tumbuh subur dapat dipanen secara berkala. Produksi Azolla bisa mencapai 3,8 kg/m2.
Kolam azolla
[http://www.acres-wild.com/]
azolla
[http://www.cfb.ie/]
Biomassa Azolla ini bisa langsung digunakan untuk memupuk tanaman. Langkah yang lebih baik adalah dengan mengkomposkan Azolla. Kompos Azolla memiliki kualitas kandungan hara yang lebih baik dari kompos dari bahan lain. Kompos inilah yang digunakan sebagai pupuk organik.
Azolla kering juga mengandung N yang tinggi, jadi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkaan kandungan N pupuk organik.

Kendala Pemanfaatan Azolla

Azolla sebagai sumber hara yang kaya N sudah sangat lama diketahui. Pertanyaannya, kenapa tidak banyak yang memanfaatkan.
Saya tidak tahu pasti, ini hanya pendapat saya pribadi. Pertama, meskipun tampaknya mudah, menanam Azolla tidak selalu berhasil. Sekitar tahun 2006-08, saya pernah diberi bibit azolla unggul dari Batan. Setelah saya perbanyak sendiri, bibit ini aku berikan ke petani. Ternyata Azolla itu tidak bisa tumbuh lama. Beberapa bulan kemudian sudah habis tak tersisa.
Kedua, produksi biomassa azolla dalam skala besar memerlukan kolam-kolam yang luas. Ini problem tersendiri yang tidak mudah dipecahkan.
Meskipun demikian, menurut saya, Azolla merupakan salah satu sumber N organik yang sangat potensial. Azolla perlu digiatkan kembali di tengah-tengah maraknya penggunaan pupuk organik saat ini. Wallahua’lam. (www.isroi.com)